Archive for December, 2007

aku dan jilbabku….

Saturday, December 29th, 2007

            

Ya Allah, ga terasa waktu begitu cepat berputar…..setahun semenjak aku mengenakan jilbab. Jujur saja aku sangat tidak – tidak menyangka hidayah yang diberikan Allah sudah turun padaku….. Tidak dapat kupungkiri juga semua ini berkat ummiku , tanteku Marintik Ilahi serta teh devy yang selalu memberi nasehat dan masukan yang sangat berarti buat aku……

Memasuki bulan Oktober 2006, aku pernah mengutarakan niatku untuk mengenakan jilbab kepada ummiku, namun ummiku mengatakan agar tidak terlalu cepat untuk memutuskan sesuatu yang sangat besar. Namun ummi selalu menganjurkan untuk mulai mengumpulkan pakaian panjang sedikit demi sedikit, jikalau suatu saat nanti aku sudah benar – benar siap mengenakan jilbab. Dan alhamdulillah pesan ummi aku jalankan, aku mulai mengumpulkan beberapa potong pakaian panjang dan jilbab. Sampai – sampai Kepala Seksi JKPBI di kantorku (dr. Puja) sedikit heran dan sudah berpikir bahwa aku akan segera mengenakan jilbab. Namun aku mengelak, karena memang pada waktu itu aku belum siap lahir batin walau keinginanku  sudah cukup besar.

            Pandangan takjubku pada seorang teh Devy yang menambah niat tulusku ini, karena diam-diam aku terpesona dan semakin sering melamunkan andai suatu ketika bisa memiliki wajah terbingkai jilbab sepertinya. Sering aku mencoba untuk memakai jilbab dirumah dan aku perlihatkan pada ummiku, dan subhanallah ummi mengatakan betapa berbedanya aku dengan jilbab itu, hmm… tapi aku berpikir, ternyata tidak cukup hanya dengan niat untuk mengenakan jilbab…ternyata keberanian sangat berperan dalam hal ini. Karena aku masih malu jika aku keluar rumah dengan mengenakan jilbab, apa komentar orang2 tentang penampilan aku……

            Akhirnya setelah dua bulan aku merenung dan menguatkan niatku karena Allah untuk mengenakan jilbab. Bismillah, jadilah pada tanggal 31 Desember 2006, tepat ketika seluruh umat muslim merayakan hari raya idul qurban, aku berniat untuk menutupi auratku  dengan mengenakan jilbab. Dan orang pertama yang kuberi tahu selain ummiku dan keluargaku adalah teh devy dan yanthi sahabatku, aku juga teringat pesan teteh ketika aku akan memulai kehidupanku yang baru..” jangan pernah liat kebelakang lagi, jalani apa yang sudah elly hadapi sekarang, memakai jilbab tidak semudah yang dipikir, elly harus terima komentar apapun yang dilontarkan orang nantinya, apalagi elly hidup di daerah minoritas”. Dan elly juga inget hadiah jilbab pertama yang teh devy berikan padaku,jilbab pink dan biru muda…hmm tengkyu so much teh…..

            Kedatanganku di kantor esok harinya cukup membuat seisi kantor heboh dan sedikit tidak percaya. Dan alhamdulillah umumnya mereka memberi sambutan dan komentar yang positif..terima kasih ya Allah, satu jalan sudah aku lewati…..Kemudian aku datang ke kampusku tepat pada Dies Natalis kampus, seisi kampus juga heboh dengan penampilan baruku, namun alhamdulillah sekali lagi respon mereka ternyata positif….sekali lagi terima kasih ya Allah…Kau mudahkan jalanku…

            Selama berjilbab,aku lebih banyak mengalami suka daripada duka. Aku merasa lebih tenang dan tenteram. Sebab, aku bisa merasakan orang jauh lebih menghargai aku. Yang aku usahakan saat ini adalah supaya ibadahku meningkat terus lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sehingga aku bisa menjadi perempuan muslimah yang salihah, smart dan syukur – syukur good looking…..amin…….

ya Rabb….

Wednesday, December 26th, 2007

Ya Rabb, kenapa hari ini aku teramat sangat merindukan kehadiran teteh di denpasar??
aku ga tau kenapa tiba2 aja perasaan ini muncul….
Yang paling buat aku sedih yaitu kejadian kemaren, pada saat kantor mengadakan odalan besar…..karena taon lalu teteh masih ada di KC Denpasar…., tapi kemarin aku sendiri…jadilah aku merasa seperti orang yg aneh dengan busanaku (hehehehhe)
Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar…..walau dalam hati pengen rasanya elly menangis…..namun tangisanku sudah kutumpahkan hari ini, karena jujur saja aku tidak bisa menahannya lagi….namun alhamdulillah lagi, aku sudah dpt berbicara dgn teteh untuk sekedar lepas kangen…hmmmm legaaaa…….
miss u teh….orang2 di KC terutama geng kita pada merindukan kecerewetan mu….hihiihihii….
semoga Allah tetap menjaga tali persaudaraan kita…amin

PuDaRnya pEsOna CleoPaTRa

Saturday, December 22nd, 2007

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan
kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal."
Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren
Mangkuyudan Solo dulu"
       kata   ibu.

"Kami
pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk
memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu" ,
ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang
sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu.
Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya,
meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan
hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah
(lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia
memang baby face dan anggun.

   Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan   tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi
bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung
melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di
hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit
cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.
Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa
tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan
shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum
manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta.
Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas
baktiku pada ibuku yang kucintai.
   Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan
adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan,
minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana,
istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya
yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.
Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai
kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih
banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di
ruang tamu atau ruang kerja. 

 

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri   sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab "
tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus
belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana
ketika kupanggil ‘mbak’, " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan
istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah
yang sedih. "wallahu a’lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca
Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil
memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai
istri kenapa mas ucapkan akad nikah?

Kalau dalam
tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak
bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata
buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan,
tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing
tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis
maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali
segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena
ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas
tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air
panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih"
lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah
siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke
kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri
didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam
saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.  

 

Dengan
cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan
memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas
masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai
balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sambil menuntunku ke
kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih. "
Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana
sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja
ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan
tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku
semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat
tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil
menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis,
Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku
untuk makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki,
nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia
memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan
berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat
puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian
pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi
yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat
duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum
sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan
kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum
sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru
selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi
sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus
harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia
berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. 

 

Selanjutnya
aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku
sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona
gadis-gadis titisan Cleopatra.

" Mas, nanti sore ada
acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk
ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau
kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut Raihana
menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe. 

 

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin
saja. " Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu
perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh
maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau
tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!"
sahut Hana langsung
menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia
berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". "
Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat
bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap
wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana
menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar
dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju
yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan
ya?".
       Hana begitu   bahagia.

Perempuan
berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau
wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki
macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku
sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang
kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan
Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang
paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara
pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. " 

 

Selamat
datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam
keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku
lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al
Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan
istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu
sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya
pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa
bahagia.

       Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki   Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget
oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata
keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali
menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia
mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing
dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang
menyindir tentang keturunan. " Sudah satu tahun putra sulungku menikah,
koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang
cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu,
doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut
lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah
peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana
hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua.
Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah
hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih
sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat
nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah
sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan
alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia
kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar,
mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan.
Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya
kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM.
Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan
kita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku
sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku
tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit
repot, harus menyiapkan segalanya.
       Tapi toh bukan   masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa
tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing
dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia
pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu
mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku
istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku
benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan
sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan
terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu
aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan
mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah
professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan
beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak
Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di
Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan
terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi.
"Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " Orang Jawa". "
Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak
saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling
tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah,
alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau sangat beruntung,
tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku melakukan langkah yang
salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu
batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa terjadi?".
"

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik,
dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini.
Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya,
saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama
kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan
berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid,
predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah
tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya
yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama
saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar
oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak
tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih
yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak
teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis
Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran,
salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang
awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya.
Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
       Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari   gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai
S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual
untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah
di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap
tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa
memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya
hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan
tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun
tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.

       Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak   terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai
muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir
yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan
ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak
mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya
harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

       Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya   memanggil suaminya dengan namanya.
Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan
saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin
untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah
membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.
Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal
meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan
kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu
mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal
di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap
modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya
mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di
Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah
dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa
bahagia kecuali dengan lelaki Mesir".
Kata Yasmin yang bagaikan
geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia
bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan
istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan
dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa
menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang
menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.
       Rupanya selama ini Yasmin   sering mengirim surat yang berisi berita bohong.
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya
mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah
Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung
menggigau meminta ibunya pulang".

Mendengar cerita Pak
Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku
teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa
sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang
menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya
karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun
hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala
didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana
kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi
teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin
membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin
memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku
tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil
uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu
kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat
cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk
istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain.
Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu
satu persatu. Dan Rabbi�?�ternyata surat-surat itu adalah ungkapan
hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia
mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan
diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah
tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia
memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
       Dan   betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal
hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan
karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok
kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam
diri hamba" tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana
berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa
kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini
kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh
derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak
mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba
padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku
padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada
hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

   Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena   kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta
hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk
tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa
hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini
kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah
dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali
Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir,
dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak.
Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby
face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya,
suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku,
semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan
terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam
jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta
Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan
tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus
berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera
kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

Kukebut
kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes
sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku
meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat
kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku
jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya
menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah
terjadi.

" Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang
dikandungnya" . " Ada apa dengan dia". " Dia telah tiada". " Ibu
berkata apa!". " Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia
terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan
bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan
maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf
telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau
meridhionya" .
    Hatiku   bergetar hebat. " kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". " 

 

Ketika
Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk
menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke
kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin
mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu
ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat
sedih, Jadi Maafkanlah kami".

Aku menangis tersedu-sedu.
Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia
telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku.
Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan
aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan
tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan
perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku
ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas
gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana
tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan
penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia
tiba-tiba gelap semua ……..

 

ya aLLah….izinkan hamba…

Tuesday, December 18th, 2007

Ya Allah……

Bila hamba bertemu dengan seseorang

dan hamba jatuh cinta
Izinkanlah hamba menjadi yang terbaik baginya

dan dia yang terbaik bagi hamba

Ya Allah……

Bila Hamba menjadi istri seseorang

izinkanlah wajah hamba menjadi kesenangan baginya

izinkanlah mata hamba menjadi keteduhan baginya
izinkanlah pundak hamba menjadi tempat melepas keresahan baginya
izinkanlah setiap perkataan hamba menjadi kesejukan baginya

Ya Allah……

Izinkanlah setiap pelukan menjadi jalan untuk lebih mendekat kepadaMu
izinkanlah setiap sentuhan menjadi perekat cinta kepadaMu
izinkanlah setiap pertemuan menjadikan kami bersyukur kepadaMu

Ya Allah……

izinkanlah hati yang sangat halus ini tidak pernah merasa tersakiti
izinkanlah hati yang rentan ini tidak pernah merasa terkhianati

Ya Allah……

jiwa kami ada dalam genggamanMu
maka
izinkanlah jiwa kami selalu bertaut dalam cintaMu

Ya Allah……
permintaan terakhirku, semoga kami berdua selalu berada dalam perlindunganMu

Amin….

 

09122007 (LemBuR..LemBUr dan LemBuRRRRR…….)

Saturday, December 8th, 2007

urghhh…..
lagi2 lembur……lembur yg kadang buat aku sebel ma semua orang….hiks hiks
sampe kapankah???????
makan uda, ngemil uda….browsing uda…., maenin kucing kantor jg uda….tapi kok waktu rasanya ga berjalan ya.????
lian dan mba mey jg dah mulai mengeluh….
yah…mungkin ini emang dah jadi satu tanggung jawab aku…yg mau tidak mau harus aku selesaikan..
tapi kenapa semua terjadi pada saat2 aku jg harus melakukan hal yg memang tidak bisa aku tinggalkan..?
bentrok antara kewajiban pada perusahaan dan kewajiban aku sebagai seorang mahasiswi..waaaaaaaaaaaaa ingin teriak rasanya…..
ya ALLAH, tolong berikan elly kesabaran dalam menghadapi semua ini….
semoga semua bisa berjalan sesuai rencanaMU,  karena elly yakin ENGKAU tidak akan diam….

sAHaBat……

Wednesday, December 5th, 2007

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan
menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang
indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama……
karenanya…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan
proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat
menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka,
dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu -
ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan
kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk
menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur
apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi
menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan
dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita
memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari
orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang
dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua
orang berhasil mendapatkannya.

Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun
ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

** Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman
yang mementingkan diri sendiri ** «Dalam masa kesuksesan, teman-teman mengenal
kita.
dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman
kita»

Ingatlah kapan terakhir kali Anda berada dalam
kesulitan.
Siapa yang berada di samping Anda ??
Siapa yang mengasihi Anda saat Anda merasa
tidak dicintai ??
Siapa yang ingin bersama Anda saat Anda tak
bisa memberikan apa-apa ??

MEREKALAH SAHABAT ANDA

Hargai dan peliharalah selalu persahabatan
Anda dengan mereka…..(",)